Welcome to Basecom Analysis, Please Leave Your Comment Alamat. Jl. Sunan Ampel Kedung malang Purwokerto CP. 081226944797

Jumat, 30 Desember 2011

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEKERJA SEKS KOMERSIAL DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI LOKALISASI GANG SADAR KECAMATAN BATURADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG
Penyakit kelamin adalah penyakit yang cara penularannya melalui hubungan kelamin. Tempat terjangkitnya penyakit tersebut, tidak semata-mata pada alat kelamin saja, tetapi dapat terjadi di berbagai tempat diluar alat kelamin. Dulu penyakit ini dikenal dengan nama “veneral disease” dalam arti penyakit Dewi Cinta menurut versi Yunani. Yang tergolong dalam penyakit ini adalah sifilis, gonorea, ulkus mola, limfogranuloma venerum, granuloma inguinale. Dalam penelitian lebih lanjut dijumpai bahwa makin bertambah penyakit yang timbul akibat hubungan seksual sehingga nama penyakit kelamin (veneral diseases) berubah menjadi sexualy transmitted diseases (STD) yang dalam bahasa Indonesia menjadi penyakit hubungan seksual (PHS) (Manuaba, 1999).
Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal, atau lewat vagina). PMS juga dapat diartikan sebagai penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan organ tubuh lainnya. Contohnya, baik Human Immune Deficiency Sindrome/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) dan hepatitis B dapat ditularkan melalui hubungan seks tapi keduannya tidak terlalu menyerang alat kelamin (Himawan, 2010). Infeksi  menular seksual (IMS) sebagian besar menyebar dari satu orang yang terinfeksi ke yang lain melalui hubungan seksual. Beberapa infeksi juga dapat ditularkan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan. Cara lain yang  disampaikan adalah melalui berbagi produk darah atau transfer jaringan. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh PMS termasuk sifilis, AIDS dan kanker leher rahim (WHO, 2008)
Penyakit Hubungan Seksual berkembang sangat cepat berkaitan dengan pertambahan dan terjadinya migrasi penduduk, bertambahnya kemakmuran, serta terjadi perubahan perilaku seksual yang bebas tanpa batas (Manuaba, 1999). Peningkatan Insiden tersebut secara tidak langsung juga terjadi karena semakin banyaknya kelompok perilaku-perilaku berisiko tinggi, seperti : anak-anak usia remaja, PSK (Pekerja Seks Komersial), pecandu narkotika, kaum homoseksual, dll.
Organisasi kesehatan dunia memperkirakan setiap tahun terdapat kurang lebih 350 juta penderita baru PMS di negara berkembang termasuk Indonesia, prevalensi gonorrhea menempati tempat teratas dari semua jenis PMS. Dalam kaitannya dengan infeksi HIV/AIDS daerah yang tinggi prevalensi PMSnya ternyata tinggi pula prevalensi HIV/AIDS dan banyak ditemukan perilaku seksual beresiko tinggi pada kelompok pekerja seks komersial (WHO, 2008).
Kejadian Penyakit Menular Seksual (PMS) yang terjadi di Indonesia telah mulai menjalar dengan perkembangan penularan yang cukup cepat. Tidak dapat disangkal, bahwa mata rantai penularan penyakit hubungan seksual adalah wanita tuna susila (WTS) yang dapat menyusup dalam kehidupan  rumah tangga. Perubahan perilaku seksual telah menyebabkan timbulnya berbagai masalah yang berkaitan dengan penyakit hubungan seksual dan kehamilan yang tidak dikehendaki (Manuaba, 1999).
Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan di Indonesia oleh seorang aktivis hak-hak anak, Mohammad Farid, pada tahun 1998, diperkirakan ada 40.000-70.000 anak-anak yang dilacurkan atau 30% dari jumlah PSK di Indonesia. United Nations Development Programme (UNDP) mengestimasikan tahun 2003 di Indonesia terdapat 190 ribu hingga 270 ribu pekerja seksual komersial dengan 7 hingga 10 juta pelanggan (Nurmawaty, 2009).
Upaya pemerintah untuk mengurangi penyebaran penyakit hubungan seksual dilakukan beberapa langkah diantaranya lokalisasi WTS, sehingga dengan mudah dikontrol dan diberikan proteksi pengobatan, sehingga dapat mengurangi penyebaran penyakit hubungan seksual (Manuaba, 1999). Di samping itu, Pemerintah melalui BKKBN telah dan sedang berencana mendirikan ATM Kondom di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, Lampung, Riau, Papua dan Papua/Irian Jaya barat. Khusus di Jawa Barat, rencananya dipasang 10 ATM Kondom, yang salah satunya di tempat pelacuran sekelas Saritem, sebagai upaya meningkatkan partisipasi pria terhadap KB sekaligus menekan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS (BKKBN, 2005).
Upaya pencegahan jauh lebih efektif daripada upaya pengobatan. Upaya pencegahan harus dimulai dengan meningkatkan sikap kepedulian tentang hidup sehat, termasuk kesehatan reproduksi (Indra, 2009). Upaya-upaya pencegahan umumnya difokuskan agar orang mengetahui tentang PMS dan juga menganjurkan agar orang yang kehidupan seksnya masih aktif dapat membatasi jumlah kencan seksnya serta mulai menggunakan cara-cara yang aman, seperti halnya ‘outercourse’ dan penggunaan kondom (Hutapea, 2003).
Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 20 Desember 2010, telah didapatkan data dari laporan Program Pengobatan Infeksi Menular Seksual di Klinik IMS Puskesmas II Baturaden sesuai dengan pemeriksaan klinis dan laboratorium pada tahun 2009-2010, gonorrhea merupakan salah satu penyakit menular seksual yang menempati urutan teratas dengan jumlah kejadian sebanyak 138 kasus penyakit Gonorrhea, selebihnya kandidiasis, kondiloma akuminata, herpes genital, sifilis, uretritis, dan trichomoniasis. Pada tahun 2009 peningkatan kejadian PMS pada bulan Februari 2009 dengan jumlah pengunjung 62 penderita, penderita gonorrhea dengan jumlah 48 orang dan sisanya mengalami PMS yang lainnya seperti kandidiasis dan sifilis. Sedangkan pada tahun 2010 kejadian PMS pun masih tetap tinggi, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya data yang terlihat pada bulan Juli 2010, yaitu dari 109 penderita, jumlah penderita Gonorrhea sebanyak 90 orang, selebihnya mengalami PMS yang lain seperti kandidiasis.
Gang Sadar adalah salah satu tempat prostitusi yang paling besar di Kabupaten Banyumas yang letaknya sangat strategis dengan jaraknya yang dekat dengan tempat wisata menyebabkan tempat ini mudah untuk dikunjungi dibandingkan tempat prostitusi yang lain. Adanya fenomena di Gang Sadar ini meningkatkan resiko penularan Penyakit Menular Seksual (PMS). Penularan menjadi semakin cepat dengan kurangnya kesadaran penggunaan kondom oleh tamu saat kencan dengan pekerja seks komersial di kawasan ini (Han, 2008).
Semakin tingginya kejadian Penyakit Menular Seksual setiap tahunnya di lokalisasi gang sadar Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas, maka upaya pencegahan harus semakin dimaksimalkan baik dari pihak pemerintah, para masyarakat, ataupun para pekerja seks komersial itu sendiri yang sangat rentan terhadap penyakit menular seksual. Pencegahan di lokalisasi yang terletak di Baturaden itu masih terbilang belum maksimal. Buktinya para penjaja seks komersial (PSK) sudah empat bulan tidak diperiksa kesehatannya, hal tersebut tidak dilakukan karena adanya Global Fund, selebaran yang memperingatkan penggunaan kondom sangat sedikit selain itu kebanyakan para tamu/pengguna PSK menolak untuk memakai kondom sebagai salah satu upaya pencegahan (Hafidz, 2009).
Menghapuskan sama sekali kegiatan para PSK seperti misalnya rencana penutupan lokalisasi atau operasi penertiban tampaknya tidak mungkin. Justru ini akan menimbulkan dampak lain dan tidak menyelesaikan masalah. Barangkali yang paling mungkin adalah tindakan agar dampak negatif yang ditimbulkannya tidak meluas ke masyarakat, misalnya dampak kesehatan yaitu munculnya Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV- AIDS dicegah melalui penggunaan kondom. Untuk itu perlu dipahami latar belakang dan motivasi mereka menjadi PSK. Demikian pula motivasi dan alasan mereka menggunakan dan tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan pelanggannya (BKKBN, 2005).
Faktor yang mempengaruhi terjadinya PMS yaitu pengetahuan dan perilaku pekerja seks komersial mengenai PMS serta kesadaran PSK dalam penggunaan kondom masih sangat rendah, berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan dengan melakukan wawancara kepada 10 Pekerja Seks Komersial di Gang Sadar yang berpedoman pada landasan teori yang berbentuk kuesioner mengenai pengetahuan dan perilaku pencegahan PMS, pada tanggal 20 Desember 2010 didapatkan hasil bahwa 4 (40%) orang tahu dan 6 (60%) orang tidak tahu tentang pengertian, cara penularan, gejala, dan pencegahan PMS serta sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, selain itu sikap yang dimiliki PSK untuk pencegahan PMS sebanyak 6 (60%) orang juga masih kurang baik dan 4 (40%) orang sudah bersikap baik untuk pencegahan PMS, Begitu pula dengan motivasi, para PSK belum termotivasi untuk mencoba melakukan pencegahan terhadap PMS, kebanyakan motivasi mereka masih rendah.
Berdasarkan gambaran latar belakang tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku pekerja seks komersial dalam pencegahan penyakit menular seksual di lokalisasi gang sadar Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas tahun 2010”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar